Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa perbaikan ekonomi dunia terus berlanjut. BI tetap memprakirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 dapat mencapai 2,6%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, perkembangan tersebut didorong dampak positif pembukaan ekonomi Tiongkok pascapandemi Covid-19 khususnya pada sektor jasa.

“Sehingga pengaruh rambatannya ke ekonomi global tidak secepat prakiraan sebelumnya,” ujar Perry, dikutip, Senin, 24 April 2023.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) juga diprakirakan lebih baik dipengaruhi kinerja ekonomi yang kuat pada triwulan I-2023.

“Perbaikan ekonomi global di tengah keketatan pasar tenaga kerja di AS dan Eropa mengakibatkan prospek penurunan inflasi global berjalan lambat dan mendorong berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di negara maju meskipun diperkirakan hampir akan mencapai puncaknya,” jelas Perry.

Lebih lanjut, menurut Perry, respons bank sentral AS dan Eropa memitigasi risiko kasus perbankan di AS dan Eropa berdampak pada berkurangnya ketidakpastian pasar keuangan global.

“Perkembangan tersebut pada gilirannya mendorong aliran masuk modal asing dan penguatan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia,” katanya.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah menguat sejalan dengan kebijakan stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah pada 17 April 2023 menguat sebesar 1,38% secara point-to-point dibandingkan dengan level akhir Maret 2023, didorong kuatnya aliran masuk modal asing di investasi portfolio.

Secara year-to-date, nilai tukar Rupiah pada 17 April 2023 menguat 5,26% dari level akhir Desember 2022, lebih tinggi dibandingkan dengan apresiasi Rupee India sebesar 0,93%, Baht Thailand sebesar 0,71%, dan depresiasi Peso Filipina sebesar 0,22%. (*)

Editor: Galih Pratama

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *