Jakarta – Mantan Direktur Utama PT Pertamina, Elia Massa Manik berbagi kisah ketika ia bekerja di anak perusahaan Pertamina, yakni PT Elnusa Tbk.

Elia sendiri pernah menjadi direktur utama Elnusa dari 2011 sampai 2014. Di periode kepemimpinan Elia, Elnusa hampir mengalami kebangkrutan.

Sementara, kala itu Pertamina sebagai induk perusahaan ‘enggan’ memberi bantuan kepada anak perusahaannya ini.

“Waktu itu, major shareholder-nya (Pertamina) tidak bersedia memberi corporate guarantee karena hitung-hitungannya sama dengan kita. Perusahaan ini memang harus segera dikubur,” kenang Elia dalam acara Infobank bertajuk Top 100 CEO & The Next 200 Leaders Forum 2023 pada Selasa, 5 Desember 2023.

Baca juga: Cerita Dirut Jasa Raharja Bantu Bank Bukopin Lewati Krisis

Saat itu, bahkan Pertamina sudah mengambil sejumlah kepala divisi dari Elnusa. Elia mengaku kalau kala itu, ia berpikir akan memperoleh pengalaman kerja baru, yakni “mengubur” perusahaan yang tengah dipimpinnya.

Tetapi, Elia berusaha untuk tetap optimis. Menurutnya, selama pemimpin itu tulus, memberi contoh yang baik, dan mau turun ke bawah atau akar rumput serta menunjukkan kepada mereka sikap positif, maka perusahaan tersebut akan bisa mencapai turnaround.

Saat itu, Elnusa menjalin kontak dengan perusahaan energi asal Amerika Serikat (AS), Chevron. Elia, yang memang ingin menyelamatkan perusahaannya, menyebut kalau pembicaraan berjalan dengan baik dan bahkan memperoleh sedikit keuntungan. Meskipun begitu, keuntungan bukanlah fokus utama mereka.

“Saya dengan Chevron itu bisa bicara dengan baik, sehingga beberapa kontrak besar bisa selamat. Tidak jadi rugi. Ada untung tapi nggak banyak. Seri saja kita sudah untung,” tuturnya.

Tidak hanya sakadar sikap saja, Elia juga menjelaskan kalau Elnusa harus bergerak cepat untuk bertransformasi. Elnusa sempat melakukan pemotongan karyawan selama 6 bulan, sesuatu yang menurut Elia cukup berat dan memberi tekanan tersendiri kepada direksi.

Kualitas Tenaga Kerja Indonesia

Elia juga menambahkan kalau dirinya hampir tidak pernah menggunakan tenaga asing dalam menyelamatkan perusahaan. Dalam kasus ini, Elia tidak segan memuji kualitas tenaga kerja Indonesia.

“Lima major turnaround dalam karier saya itu, saya cuma hampir sekali hiring orang asing. Itupun untuk alat berat,” lanjut Elia.

Dirinya terang-terangan berkata orang-orang Indonesia tidak memiliki Intelligence Quotient (IQ) tinggi. Namun, Elia menganggap masyarakat Tanah Air punya Creativity Quotient (CQ) yang tinggi, sehingga bisa menyaingi tenaga asing.

“Anak-anak Indonesia mungkin IQ-nya tinggi. Saya beberapa kali menantang orang yang bergerak di bidang sumber daya manusia. Tapi CQ-nya tinggi,” tegasnya.

Baca juga: Elnusa (ELSA) Realisasikan Capex Rp200 Miliar Tambah Armada

Menurut Elia, alasan Elnusa mampu bersaing dengan perusahaan asing ini karena CQ yang tinggi. Elia mencontohkan, orang Indonesia mampu menjelaskan praktik di lapangan dan menghasilkan produk, meskipun belum tentu memahami teorinya.

Elia kembali memuji kecerdasan para pekerja di lapangan. Untuk mendukung kinerja mereka, Elia memberi wejangan kepada para pemimpin untuk mengarahkan pekerja-pekerja ini dengan baik.

“Anak-anak kita di bawah itu pintar. Apa yang mereka butuhkan adalah true leadership,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *