Oleh Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank

BESAR pasak daripada tiang. Belanja dulu, bayar kemudian. Banyak gaya, banyak utang. Itulah gambaran “buram” anak-anak muda sekarang ini. Banyak anak muda sekarang ini mulai mengubur masa depannya dengan menggali utang lebih dalam, tanpa peduli dengan kemampuan membayar. Bisa jadi design produk yang dijual sudahh ”cacat” dan menyesatkan anak muda. Dan, lebih parah lagi, tidak ada satu pasangan calon Presiden 2024 yang berbicara tentang ”boom” waktu utang anak-anak muda ini.

Tidak semua anak muda. Tapi, ada generasi “asam sulfat” – generasi yang tidak memahami bahaya utang itu sungguh mematikan dirinya sendiri karena jebakan utang yang menumpuk untuk kebutuhan gaya hidupnya. Mereka tidak peduli bahaya laten akan masa depannya.

Seperti diungkapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah anak muda yang terlilit utang makin hari makin banyak. Jalur mulus utang itu lewat produk buy now pay later (BNPL). Kemudahan teknologi dan kemampuan mereka mengakses menjadi jalan tol menggali utang.

Pengguna produk BNPL makin menjamur. Menurut data dari Pefindo Biro Kredit (IdScore), per November 2023, nilai pinjaman BNPL mencapai Rp28,22 triliun. Angka ini meningkat 16,99% se-cara year on year (yoy), dan naik 25,98% dari bulan sebelumnya (Oktober 2023).

Baca juga: Ramai Bisnis Paylater di Perbankan, OJK Imbau Hal Ini

Jumlah peminjam baru pun bertambah. Berdasarkan total akun kredit yang dibukukan pada periode yang sama ada sebanyak 37.642.662. Atau, meningkat 1,53% secara yoy, dan 4,93% secara month to month (mtm). Pinjaman BNPL hari-hari ini menjadi produk andalan dari banyak pinjol dan juga perbankan.

Anak-anak muda menggemari produk BNPL. Lihat saja, dari sebaran akun tersebut, terpantau pengguna BNPL didominasi anak muda berusia 20-30 tahun atau 45,16%-nya. Sedangkan, jika dilihat berdasarkan domisili peminjam, Jawa Barat berkontribusi 24,93%, diikuti oleh DKI Jakarta 14,5% dan Jawa Timur 10,2%.

Jika diperinci lebih jauh, dari transaksi tersebut, sebanyak 5,31% di antaranya masuk kategori gagal bayar (galbay) atau kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Kendati demikian, angka ini membaik 0,35% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sementara, dari sebaran grup usia yang masuk kredit macet (kol 3+4+5), tertinggi ada pada sebaran usia >20-30 tahun yaitu 39,2%, kemudian diikuti oleh usia >30-40 tahun 35,84%.

Banyak sebab, kenapa banyak utang “mangkrak” ini. Bisa saja anak-anak muda ini tergoda budaya konsumtif. Pengin dilihat wah. Mereka tak paham bahwa pinjaman itu harus dikembalikan, kendati tanpa jaminan. Lebih parah lagi, pinjam untuk membeli barang-barang konsumtif. Dan, ketika pasar modal boom, banyak anak muda ini pinjam secara online. Bahkan, sekadar untuk mentraktir atau jalan-jalan dengan pacarnya. Lebih ngeri lagi, mereka tak peduli utangnya makin “menggunung” yang harus mereka bayar.

Atau, menurut Infobank Institute, produk BNPL ini dari design produknya salah, dan cacat sejak lahir. Jika dilihat seksama, BNPL ini produk menyesatkan. Selain bunganya relatif masih tinggi, kelayakan debitur tidak begitu menjadi perhatian, seperti pendapatan untuk menjamin pengembalian. Harusnya, seperti di negara-negara lain, seperti Singapura, Australia dan Uni Eropa kelayakan pinjaman setidaknya seperti orang apply kartu kredit.

Tidak semua orang diberi keleluasaan pinjaman dengan kemudahan teknologi yang mengepung ruang-ruang anak muda. Jadi, produk BNPL yang ada di Indonesia, khususnya yang diberikan oleh pinjol sejatinya salah produk.  Produk BNPL seperti didesign untuk menyengsarakan masyarakat, selain bunga yang masih selangit (0,3% per hari), juga kelayakan debitur hanya dilihat sebelah mata. Pola pemberian kartu kredit merupakan contoh yang baik dengan suku bunga relatif lebif rendah dan tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Baca juga: Duh! OJK Sebut Jerat Pinjol Bikin Kalangan Anak Muda Sulit Dapat Kerja Hingga KPR

Sejurus dengan itu – pinjol ini menggempur anak-anak muda lewat media sosial. Hampir seluruh channel YouTube dijejali iklan pinjol. Kontennya tak sedikit yang menyesatkan. Bahkan, menjebak anak-anak muda yang buta literasi keuangan. Bahkan, anak-anak muda ini tidak sedikit yang menganggap BNPL sebagai pendapatan tambahan, dan ada kemungkinan lagi untuk pinjam di pinjol lainnya.

Menurut data OJK, ada debitur dari produk BNPL yang punya kredit hingga memiliki cicilan sebesar 95% dari penghasilan. Misalnya, jika konsumen punya pendapatan Rp10 juta, maka Rp9,5 juta untuk bayar utang. Ngeri. Dan, tentu potensi besar menjadi kredit macet. Menurut data yang sama, banyak dari mereka mempunyai rata-rata pinjaman antara Rp300.000 sampai Rp500.000.

Sementara, menurut hasil survei “Aspirasi Anak Muda Indonesia 2022” oleh KG Media dan Litbang Kompas, ada 48% anak muda mengaku kesulitan ekonomi, 20% khawatir terhadap prospek ekonomi mereka. Mereka menyebut kesulitan ekonomi dan prospek ekonomi tak lain yang paling utama adalah soal pekerjaan dan kemampuan finansial.

Nah, jika dikaitkan dengan pinjaman macet anak-anak muda yang sebesar 5,31%, maka secara nominal Rp1,12 triliun. Kelompok usia yang paling besar menunggak yaitu di rentang 20-30 tahun. Hal ini tentu membikin cemas bagi masa depan Indonesia.

Anak-anak muda generasi “asam sulfat” ini tak paham bahwa utang harus dikembalikan. Jika tidak segera diselesaikan, maka mereka benar-benar akan mati secara perdata. Masuk daftar hitam (blacklist) atau SLIK-OJK dan masa depannya suram. Tidak bisa bekerja, karena bank dan sektor keuangan tidak menerima para penunggak utang. Juga, tidak bisa ambil KPR dan kredit sepeda motor atau mobil.

Mereka di 2045, meski kelak mempunyai uang, tak akan bisa melakukan pinjaman untuk beli rumah, atau untuk beli kendaraan. Pokoknya segala bentuk fasilitas pinjaman. Bahkan, ada kabar, anak-anak muda yang masuk SLIK tak akan bisa mendapatkan pekerjaan formal. Apalagi bekerja di lembaga keuangan, seperti bank. Madesu, masa depan suram bagi mereka yang masuk SLIK, karena secara perdata sudah “mati”.

Semoga presiden ke depan memikirkan ini, dan para politisi di Senayan tidak hanya jalan-jalan ke daerah pilihan-nya dengan berkedok sosialisasi literasi keuangan yang boros. Para politisi sejujurnya lebih peduli daerah pemilihannya dibandingkan dengan masa depan anak muda yang tersesat jalannya ini. Mau bukti? Lihat anak-anak muda makin banyak tersesat jalan keuangannya seperti data Pefindo Biro Kredit (IdScore) yang memaparkan makin banyak anak-anak muda yang kreditnya macet.

Baca juga: Generasi Muda Terjebak Pinjol, Komisi XI DPR: Perlu Edukasi Agar Tak Salah Arah

Kita selamatkan generasi muda agar tidak menjadi generasi “asam sulfat”. Selain literasi, juga meningkatkan pertumbuhan yang berkualitas sehingga terbuka lapangan kerja yang lebar. Kehidupan makin baik dan tentu bijak menggunakan penghasilan. Generasi muda keren itu generasi yang bisa mengatur dengan bijak keuangannya. Bukan generasi muda “asam sulfat” yang mengubur masa depannya sendiri dengan gali utang tutup utang untuk membiayai gaya hidupnya agar terlihat wah.

Tidak hanya literasi dan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, tapi juga design produk BNPL. Dan, jika mau lebih awal mencegah, ada baiknya design produk BNPL ini harus segera diubah. Tidak semua orang  diguyut pinjaman, karena jujur saja, produk BNPL ini seperti didesign untuk ”mensengsarakan” anak-anak muda yang belum tahu soal keuangan yang dikepung konsumerisme ini.

Boleh jadi otoritas harus berani mengevaluasi produk BNPL yang ada sekarang ini. Atau, melakukan moratorium, lalu mengganti produk dengan pendekatan seperti layaknya orang mendapat fasilitas kartu kredit. Produk kartu kredit, jujur lebih manusiawi dari sisi bunga dan kelayakan dari sisi peminjam karena memperhitungkan pendapatan si peminjam. Jangan biarkan anak-anak muda menjadi generasi ”asam sulfat” yang terjebak gali utang tutup utang, lalu ngemplang. Indonesia Emas tahun 2024 bisa jadi menjadi Indonesia ”Cemas”. Ambyar!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *